Saturday, August 12, 2017

Trip to (Akhirnya) Merbabu 3142 Via Chuntel – Selo – Part 2

Sunrise di pos 3




View dari pos 3 benar-benar diluar ekspektasi saya, karena sampai di pos 3 kemarin hari sudah gelap. Pagi ini saya cukup segar dan sangat bersyukur bisa bangun dengan kondisi sehat dan dapat view bagus setelah malam sebelumnya saya hampir kena hypothermia. Yes, for the very first time. Jadi saat memasak saya tidak sadar kalau saya menduduki tanah sehingga celama belakang saya basah, karena kurang aware jadilah saya tidur dengan kondisi celana sedikit basah. Sebelum tidur saya sempat menggil, nah disaat hampir lelap tiba-tiba saya kepanasan sedangkan badan saya dingin sekali, untungnya tidak terlalu lama sehingga saya kembali sadar dan lanjut tidur. (Thanks to Dira and Faaiq for Saving me). View dari pos 3 ini sindoro dan sumbing kembali terlihat, dan view di belakan adalah pos pemancar.





Pos 3 – Pos 4 Pemancar (2 Jam)

Dari bawah sudah terlihat kalau track menuju pemancar ini sangat luar biasa. Fisik harus tetap fit dan mental juga tidak boleh drop. Jam 10 kami meninggalkan pos 3, menuju pemancar. Track menaiki punggungan dan tanjakan yang tidak ada habisnya, disini kesabaran kita benar-benar diuji. Karena pemancar yang menjadi patokan kadang terlihat kadang tersembunyi karena jalurnya lumayan memutar. 2 jam perjalanan normal yang di butuhkan untuk ke pemancar, namun saya berlima (plus mangku) yang kembali terpisah dari tim membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai di pemancar. Sayangnya, kabut turun saat kami di pemancar sehingga viewnya tidak terlihat bagus



Pos 4 Pemancar –  Puncak (3-4 Jam)

Gunung merbabu memang terkenal dengan 7 summitnya, gunung ini memiliki banyak puncak. Karena keterbatasan waktu kami hanya summit ke Klenteng Songo dengan ketinggian 3124 MDPL. Jangan ditanya tracknya seperti apa, berkali-kali mendaki dan menuruni lembah.





Well, disini saya sedikit bingung. Merbabu ini punya jalur yang diberi nama jembatan setan, dari peta jalur yang ada di basecamp Jembatan Setan ini kita lewati sebelum persimpangan antara puncak syarif dan kawah, sedangkan di internet banyak informasi yang mengatakan kalau jembatan setan itu tebing yang cukup terjal yang terdapat sebelum puncak. I don’t know which one is true yang pasti jalur yang paling menakutkan itu adalah sepanjang jalur pemancar dan puncak.



Yang pernah ke merbabu Via chuntel ataupun tekelan pasti tahu sebelum puncak kita kan melewati tebing yang mengharuskan kita merayap dan sedikit climbing. Nah disini saya punya pengalaman kurang mengenakkan. Sebelum tebing itu saya dan faaiq sempat berhenti menunggu yang lain, faaiq menunjuk kea rah puncak dan bilang terdapat 2 jalur ke puncak, nah dia ingin mengajak saya untuk melewati jalur sebelah kanan, jalurnya lebih pendek namun amat sangat terjal.

Sayapun berhasil melewati jalur tebing yang hanya bisa dilewati satu orang dengan posisi jalan badan harus merayap mempel ke dinding tebing. Seperti yang di bilang faaiq saya di ajak menaiki jalur sebelah kanan, saya sudah bilang kalau saya sangat takut dan tidak yakin bisa melewati jalur ini. Namun saya tetap mencoba hingga beberapa meter sebelum atap tebing saya stuck dan tidak bisa bergerak kemana-mana. Saya panik dan mulai menangis, bayangkan saya stuck di dinding tebing yang sama sekali tidak ada kemiringan, dengan ketinggian hampir 5 meter dan di bawah saya mulut jurang siap menyambut saya kalau sampai saya salah pijakan dan sayapun masih memakai carrier. Faaiq yang niat awalnya mengajak saya kesana agar saya bisa melawan rasa takut ketinggian, tapi saya sama sekali tidak punya pengalaman climbing sedang climbing merupakan salah satu hobbynya. Akhirnya sayapun diselamatkan oleh mangku. (Thanks to Mangku). 

Nyangkut di Tebing
10 menit dari tebing akhirnya kami menginjakkan kaki di puncak merbabu. Syukurlah, cuaca cerah dan awan-awan cantik menyambut kami disana.

Puncak Merbabu








Merbabu,
April 22, 2017

To be Continued


No comments:

Post a Comment