Wednesday, October 24, 2018

Turun Prau Lanjut Drama Polhut di Puncak Sikunir 2360 MDPL

Pagi-pagi kami dibangunkan oleh Tyo untuk menunggu sunrise, sudah jam 5 subuh namun belum ada tanda-tanda terang di ufuk timur. Ternyata sunrise yang kami tunggu tidak datang karena mendung menutupi Wonosobo saat itu. Hanya pemandangan Gunung Sindoro yang tampak gagah seperti mengejek kami “Syukurin, gagal nyamperin gue ke Praupun gadapet sunrise”. Begitulah kira-kira. 

Setelah puas foto-foto di puncak kami memasak untuk sarapan. Rasanya cukup bosan. Logistik masih banyak namun sayang jika hanya di habiskan di Prau. Setelah berbagai pertimbangan kami memutuskan untuk cepat-cepat turun karena 2 hal. Pertama kami harus segera ke klinik untuk mengobati tangan Faaiq yang kena golok, robeknya lumayan dan takut infeksi. Ke-2 kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian ke Puncak Sikunir yang terkenal dengan golden sunrisenya. Berharap mengobati kekecewaan karena Cuma bisa menatap Sindoro dari kejauhan dan sunrise gagal di Gunung Prau.

Tuesday, October 16, 2018

Trip Dramatis ke Gunung Prau 2565 MDPL


Seperti judul postingan, pendakian kali ini sangat dramatis. Trip setahun sekali dengan geng Jalan-jalan bro seharusnya berjalan dengan baik. Trip ini sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Sindoro, pelengkap ekspedisi yang dikenal dengan Triple S setelah sebelumnya Sumbing dan Slamet sudah kami lengkapi. Terpilihlah bulan September karena beberapa alasan, tanpa terpikirkan sebelumnya kalau bulan September ini adalah puncaknya kemarau sehingga beberapa gunung rawan terbakar. Benar saja, 2 minggu sebelum pendakian terdengar kabar kalau Gunung Sindoro kebakaran. Tiket kereta sudah kami pesan, itinerary sudah lengkap dan pembagian tugas pun sudah lengkap juga, boleh dibilang persiapan sudah 70%. Sayapun menghubungi beberapa temen yang tau informasi gunung mana yang masih di buka. Pilihan yang memungkinkan saat itu adalah Sumbing dan Lawu. Sialnya, 2 gunung itupun di tutup, walaupun H-seminggu Lawu sudah dibuka tapi menurut kami masih agak riskan. Setelah beberapa kali rapat via line (karena kesibukan masing2) dan sekali rapat di rumah Aldo, akhirnya diputuskan untuk pindah ke Ciremai. Karena kami tidak perlu mengubah jadwal kereta. Kereta yang kami naiki melewati st. Prujakan. 

H-3 saatnya belanja dan distribusi logistic pendakian. Semua berjalan lancar hingga akhirnya saat saya packing pada saat H-1 pendakian salah satu teman saya Eny yang tinggal dekat basecamp Ciremai mengabarkan bahwa dia melihat asap tebal di lereng gunung Ciremai, saat itu juga dia menghampiri basecamp dan mengabarkan bahwa Ciremai kebakaran dan ditutup sementara untuk kegiatan pandakian.