Monday, August 11, 2014

Goa Jatijajar dan Pantai Ayah: Kebumen!

Masih kelanjutan dari postingan saya sebelumnya (purwokerto), kali ini trip ini disponsori oleh abang saya dan keluarga di Purwokerto. Setelah beberapa hari merasakan istirahat dengan tenang di Purwokerto akhirnya saya merengek lagi untuk diajak jalan-jalan. Jalan-jalan kali ini berasa family trip, karena saya meminta abang saya untuk mengajak keluarganya untuk ikut jalan-jalan.

Sabtu, 28 Juni 2014 kamipun berangkat. Tujuan pertama wisata kali ini adalah “caving” di sebuah goa yang terletak disalah satu sudut daerah Kebumen, Jawa Barat. Goa Jatijajar, namanya masih begitu asing karena memang baru pertama kali saya dengar. Selain goa Jepang yang terdapat di Bukittinggi, tentu saja ini wisata goa pertama saya. Kalau goa Jepang yang memang sengaja dibuat, Goa Jatijajar ini terbentuk secara alami, tentu sensasinya akan berbeda dari kedua tempat tersebut.

Dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dari purwokerto untuk mencapai tempat tersebut. Sepanjang perjalanan tidak membuat saya bosan karena suara ribut anak-anak kecil membuat saya seketika merindukan rumah dan mengingat masa-masa disaat jalan-jalan denga kedua orangtua saya. Dari kecil memang saya sudah sering diajak jalan-jalan, karena memang kedua orangtua saya mempunyai hobby yang sama.

Setelah dua jam perjalanan sampailah kami semua di tempat wisata tersebut. Tiket masuk juga hanya IDR 7500 – dewasa dan IDR 4000 untuk anak-anak. Sangat murah. Ada yang menarik disini, baru berjalan beberapa langkah dari pintu masuk, saya mendengar suara-suara musik yang agak unik. Setelah melihat sekitar, ternyata suara musik itu berasal dari sekelompok anak-anak kecil yang sedang main di air disebuah parit dan memukul-mukul air tersebut hingga mengeluarkan bunyi yang enak di dengar. Kreatif J setelah meminta mereka untuk menyanyikan beberapa lagu, saya dan orang-orang yang menonton melemparkan koin ke dalam air tersebut sebagai reward. Tentu ini merupakan sebuah pertunjukan yang menarik buat saya.


Untuk menuju pintu goa Jatijajar kita harus menaiki beberapa lokasi yang dihubungkan dengan beberapa anak tangga. Dalam lokasi tersebut juga terdapat sebuah pasar yang khusus untuk menjual oleh-oleh seperti aksesoris-aksesoris dan baju-baju bertuliskan Goa Jatijajar.


The Kids and their playground



Clear Water






Jalan Menuju Pintu Goa Jatijajar


Setelah menaiki anak tangga tersebut sampailah kami di pintu goa. Beginilah kira-kira pemandangan yang bisa dinikmati disini.




 Didalam goa tersebut banyak terdapat patung-patung yang menghiasi setiap sudut goa, suhu yang lembab dan juga tetesan air yang berasal dari atap gua seketika menghilangkan panas karena perjalanan menaiki tangga untuk sampai ke goa ini.























Salah satu kelebihan wisata di daerah jawa ini yaitu mitos-mitos yang beredar disetiap tempat wisata tersebut. Kali ini ada sebuah sungai yang mengalir di dasar goa tersebut yang jika kita mencuci muka dengan air ini, kita akan awet muda.



Setelah puas keliling goa, pada pintu keluar kita bisa berfoto dengan burung hantu, beo dan ular. Saat itu saya memilih ikut foto dengan burung hantu. Hanya dengan membayar IDR 20.000 sebuah foto sudah saya dapatkan.



Destinasi selanjutnya, adalah pantai. My another favorite spot. Dari goa Jatijajar menuju pantai Ayah yang merupakan pantai terdekat dari sana cuma dibutuhkan kurang lebih 30 menit perjalanan.

Pantai Ayah memang tidak terlalu bagus, karena terdapat muara dan ombaknya yang besar dan cukup kotor. Namun suasana pantai yang masih sepi dan luas cukup mempuat saya merasa puas untuk mengahabiskan waktu dengan berjalan-jalan keliling pantai.

Beginilah kira-kira penampakan pantai Ayah










Untuk kali ini saya tidak menemukan sunset yang saya cari. Cuaca yang tadinya cerah seketika mendung sehingga kami memutuskan untuk pulang. Ditambah lagi malamnya nanti saya sudah harus balik ke Jakarta.


Terima kasih Bang Andri dan Keluarga yang sudah menampung saya selama escaping J jangan bosan-bosan untuk saya kunjungi dan minta diantar jalan-jalan lagi.
Purwokerto, 28 Juni 2014


No comments:

Post a Comment