Wednesday, November 11, 2015

“3371 MDPL” Pendakian Sumbing Part 1

Here the story goes, Just like I’ve said before, naik gunung dulu cuma sebatas angan-angan buat saya. Kondisi fisik serta izin orang tua menjadi alasan utama kenapa dari dulu saya tidak pernah ikut organisasi-organisasi pecinta alam di kampus maupun di SMA. Well, I didn’t expect too much when it comes this far. Dalam setahun ini akhirnya saya bisa dua kali naik gunung. Here, I’ll tell you pendakian saya yang ke tiga.

Hey Sumbing :)
Berawal dari ajakan teman kuliah saya bulan oktober untuk melakukan pendakian bulan November. Pilihan pertama adalah sindoro dan yang akan berangkat adalah 15 orang. Beberapa hari setelah tiket kereta dipesan terdengar kabar sindoro kebakaran dan semua pendakian ditutup, plan pun berpindah ke merbabu yang sebenarnya juga kebakaran dan pendakian ditutup namun nanti akan dibuka lagi awal November. Everything was okay until two days before the day, we haven’t heard any news about Merbabu. Banyak isu yang mengatakan bahwa pendakian masih ditutup. Saya panik, dan langsung flashback ke beberapa bulan yang lalu saat planning ke Karimun Jawa gagal total karena angin yang membuat kapal tidak bisa berlayar ke Karimun Jawa padahal tiket kereta sudah dipesan. Tak mau lagi kejadian seperti itu terulang akhirnya setelah Aldo (sebagai team leader) memberikan beberapa option terpilihlah Gunung Sumbing sebagai pilihan terakhir untuk didaki.


Awalnya saya sedikit ragu, karena seharian blog walking tentang sumbing, semua membahas tentang beratnya track beserta mitos-mitos luar biasa yang membacanya saja membuat saya cukup merinding. Saya yang latihan fisiknya sangat terbatas karena berbarengan dengan one month notice mau resign dari kantor cukup takut dan berkali-kali mikir “bisa ga ya?”  Dan keputusanpun sudah bulat berangkat ke Sumbing dengan personil sisa 7 orang (Aldo, Faiq, Mangku, Tyo, Dira, Mellie dan saya sendiri) setelah satu persatu teman yang lain mengundur kan diri. Dari ketujuh orang inipun cuma Aldo dan Faiq yang memang sudah berpengalaman sebelumnya. Sisanya rata-rata cuma pernah naik gunung, bahkan salah satu yang berangkat, pendakian kali ini adalah pendakian pertama.

November 4 - 5 2015

Hari pertama jam 21.00 kumpul di tempat saya sebagai meeting point untuk repacking. Setelah semua persiapan selesai menuju stasiun pasar senen. Singkatnya jam 5 subuh sampai di stasiun pekalongan dan melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo menggunakan mobil carteran.

Lets Start the Journey
Kita melakukan pendakian melalui basecamp Garung, karena memang menurut beberapa blog rute ini lumayan banyak peminatnya dan lebih mudah dari dua rute lainnya.

Basecamp

Peta Jalur

Sindoro


Setelah kembali repack dan memastikan semua persiapan dirasakan lengkap setalah shalat dzuhur kami berangkat. Oh ya, dari basecamp garung ini menuju puncak Gunung Sumbing terdapat dua jalur, jalur baru dan jalur lama. Kami naik menuju jalur lama dan turun menuju jalur baru.

Basecamp – pos 1 Malim (15 Menit naik ojek)

Dari basecamp menuju pos 1 menggunakan ojek (Rp. 25.000,- per orang). Alternative lain jalan kaki selama 1-2 jam. Mungkin bacanya enak, tapi pas merasakan sendiri naik motor trail posisinya dibonceng di depan dengan jalur tanjakan semua selama 15 menit. I clearly declare it will be my last time trying that stuff.

Beginilah Kira-kira Posisinya



Pos 1






Pos 1 Malim – Pos Genus 2 (pendakian super santai karena kebanyakan break 1-2 jam)

Perjalananpun dimulai, seperti yang dibilang orang-orang yang pernah naik gunung, Sumbing itu salah satu gunung yang memang susah di daki dan pendakian yang tidak ada bonusnya. Maksudnya tidak ada bonus karena memang sepanjang perjalanan selalu menanjak terus-terusan. 

Menuju Pos 2



Nah, dari pos satu menuju pos dua ini jalanannya memang menanjak tapi masih dibilang enak. Saya sempat sedikit drop efek penyesuaian badan dan efek tidak tidur semalaman. Setelah satu jam lebih menanjak akhirnya sampai pos 2. Pos 2 itu hanya tempat datar sedikit untuk istirahat. Kita tidak bisa mendirikan tenda di pos 2.

Pos 2

Pos 2 Genus – Pos 3 Sedelupak Roto

Nah, ini awal penderitaan selama pendakian. Memang dibanding pendakian saya sebelumnya kali ini benar-benar jauh lebih berat. Dari pos Genus ini perjalanan semakin menanjak, karena untuk menuju pos 3 dari pos dua kita harus melewati engkol-engkolan. Dari review blog2 lain yang saya baca, engkol-engkolan ini merupakan jalur yang paling menyebalkan selama pendakian. Bagaimana tidak, jalur yang merupakan jalur tanah gembur berpasir dan basah. It was really steep and tricky. Disini memang harus sangat hati-hati, karena jalurnya benar-benar licin. Ini juga merupakan salah satu mendaki dengan lutut ketemu dagu. Saya disini sempat drop dan meminta faiq untuk membawakan carrier saya (thanks to you aki-aki). 

Penampakan Engkol-engkolan





Pendakian yang berasa lama sekali dan tak habis-habis karena kabut dan gerimispun mengiringi pendakian. Tenagapun terkuras, dan mental saya sedikit drop takut tidak sanggup melanjutkan pendakian. Penderitaan pertamapun berakhir setelah akhirnya menemukan sebuah tempat lega untuk mendirikan tenda dan ternyata memang pos 3 Sedelupak Roto dan berbarengan dengan azan magrib.

Setelah mendirikan tenda dan masak-masak pertama ditutup dengan kesimpulan sukses mencapai target yang sudah ditentukan sesuai dengan planning awal.


To be continued

No comments:

Post a Comment