Tuesday, August 25, 2015

The problem of being twenty something

Well, postingan kali ini bukanlah postingan jalan-jalan yang sering saya share di blog saya, juga bukan tulisan-tulisan cheesy ataupun cerpen-cerpen galau yang seringkali menjadi ciri khas saya menulis. Anyway, ini juga bukan curhatan, cuma beberapa hal yang mengganjal dipikiran saya tentang masalah-masalah wanita yang mendekati first quarter atau seperempat abad namun masih belum menikah. Sesuai dengan judul blog ini “my word is my universe” jadi isinya memang tidak melulu tentang jalan-jalan karena saya bukanlah travel blogger yang serius (atau mungkin belum).



Being twenty something actually is not a problem at all when you still haven’t decided to marry someone yet. Banyak kok orang yang berumur above thirty juga masih belum menikah. Banyak diantara mereka yang memang sengaja menunda, salah satunya masih mementingkan pekerjaan. Namun ini juga bukan merupakan pembenaran untuk menunda menikah karena menurut medical explanation juga wanita mendekati 40 riskan untuk hamil.

Sebagai auditor yang notabene ritme kerjanya yang mobile serta keseringan lembur disaat high season kadang memang membuat saya lupa memikirkan hal-hal tersebut. Banyak pertanyaan yang mungkin sudah bosan saya dengar diantaranya;

“Kerja mulu, kapan kawin?”

“Kalau keluar kota terus kapan bisa pacaran?”

“Lembur mulu deh, gimana tar kalo udah berkeluarga?”

“Udah umur segini, ga kepikiran buat nikah?”

Potongan-potongan pertanyaan di atas mungkin masih sebagian. Banyak lagi pertanyaan yang intinya sama saja, yaitu berhadapan dengan dua pilihan kerja atau menikah. Nah, berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tadi saya menyimpulkan kira-kira apa yang saya pikirkan hingga diumur 23 yang sedikit lagi 25 namun masih mementingkan pekerjaan.

Sebagai wanita normal tentu saja saya menginginkan memiliki kehidupan layaknya wanita-wanita yang sudah menikah. Mempunyai suami dan mengurus anak-anak tentu saja impian semua wanita. Namun, untuk waktu kenapa sampai sekarang belum? Menurut saya menikah itu bukan perkara gampang. Saya tidak mau menikah hanya karena orang-orang disekitar saya termasuk teman-teman dekat yang berlomba-lomba sebar udangan ataupun karena tuntutan orang tua. Bayangkan, menikah, mencari partner seumur hidup that you are gonna spend the rest of your life, the last one you see before sleep and the first one you see when you wake up dan yang pasti sama-sama sudah tau baik buruk masing-masing. No wonder memang banyak teman-teman saya bilang saya terlalu “picky” gara-gara alasan klise saya.

Kenapa tetap memilih pekerjaan? Tentu saja untuk membiayai hidup, belajar mandiri sehingga tidak perlu bergantung ke orang tua. Dari sinipun one of my close friend ever said “Lo tu terlalu mandiri, apa-apa bisa sendiri, kemana-mana bisa sendiri, lama-lama juga lo ga butuh cowok buat bergantung?”

Buat pertanyaan begini memang menyebalkan, pertama, emang fungsi laki-laki hanya untuk menggantungkan hidup? Yang kedua tidak semua kebutuhan bisa dipenuhi sendiri let’s say yang paling realistis “biological needs” yakali gabutuh cowok.

Pertanyaan-pertanyan diatas juga sebenarnya endless question, siklusnya sudah pasti sama.

"Kapan nikah?" Setelah menikah tentu akan muncul kembali pertanyaan "kapan punya anak?" Dan dilanjutkan; "udah punya anak kok masih kerja?? kasian anaknya" atau "sudah punya anak kok gamau kerja lagi? kasian ijazahnya!!" Dan seterusnya dan seterusnya…… inilah kenapa saya tidak terlalu ambil pusing dengan omongan orang-orang sekitar. Ya balik lagi pilihan ada ditangan masing-masing mau menikah buru-buru atau kerja dulu.

No comments:

Post a Comment