Tuesday, July 1, 2014

Elegi!

              Aku menatap gelisah kesekeliling kamar. Berkali-kali aku melirik jam tanganku. Baru setengah jam lewat waktu yang ditentukan kemarin. Dua buah jarum suntik masih kugenggam erat ditangan kananku. Sudah genap sebuluh tahun kisah ini berjalan. Entah berapa banyak rasa yang sudah tidak lagi bisa terdefinisi. Tentang kamu, laki-laki yang selama ini menaungi hatiku. Dalam diam aku beralih keruang tamu. Sejenak aku ingin mengulang-ngulang kembali kenangan demi kenangan selama sepuluh tahun belakangan.

                Dan ingatanku membawaku kembali pada saat itu.

Sepuluh tahun sebelumnya.
                Aku berlari sekencang-kencangnya dari pagar sekolah menuju ruang kelas. Tepat disaat aku datang, bel tanda masuk berdentang tiga kali. Dalam hati aku merutuki pagi ini, hari kedua duduk di bangku kelas dua aku telat untuk pelajaran ekonomi.  Seperti biasa sewaktu kelas satu dulu guru ekonomi yang terkenal mematikan itu tidak akan mebiarkan muridnya memasuki kelas jika telat bahkan Cuma satu langkah saja dibelakangnya. Dan sialnya tahun inipun aku kembali bertemu dengannnya.
                Aku melihat sekilas ke arah ruang guru.
                Sial. Pak Mahmud sudah dengan sangarnya berlari menuju ruang kelasku. Aku berusaha mempercepat lariku namun jarakku yang tertinggal jauh membuatku tak mampu mengejarnya. Akupun lemas. Terlambat sudah. Aku tidak bisa mengikuti pelajaran ekonomi pagi ini.
                Aku memutar arah menuju kantin belakang. Tanpa kusadari kamu mengikutiku. Aku memilih duduk disebelah pojok kanan kantin tersebut. Kamu yang tadi dibelakangku ternyata juga masih mengikutiku. Aku tidak menghiraukanmu. Namun..
                “Hey, kamu murid kelas 2 A?”
                “Iya kenapa?”
                “Perkenalkan, namaku Abimanyu. Tapi aku biasa dipanggil Abe”
                Aku memperhatikan wajahmu lekat. Bibirmu yang melengkung indah saat tersenyum serta pandangan matamu yang sayu sedikit sendu. Membuat otakku berhenti berfungsi sesaat.
                Cepat-cepat aku mengendalikan pikiranku.
                “Aku Nada”
                “Hmm. Nada? Bisa bernyanyi?”
                “Sama sekali tidak”
                “Aku tadi melihatmu lari-lari menuju kelas. Aku juga telat dikelasnya pak Mahmud. Tp aku  baru tahu ternyata telat selangkah dari dia kita tidak boleh masuk”
                “Aku sudah tahu. Kelas satu kemarin dia juga mengajarku”
                “Pantas. Ini hari pertamaku disekolah ini”
                Gara-gara kita berdua tidak masuk pada jam pelajaran ekonomi jadinya kita mendapat hukuman untuk mengerjakan lima puluh soal latihan yang harus segera dikumpulkan besok pagi. Dan berhubung Cuma kita berdua yang terlambat, pak Mahmud memutuskan untuk menyuruh kita mengerjakan jadi tugas kelompok. Jadilah sepulang sekolah aku dan kamu mengerjakan tugas tersebut sampai larut malam dirumahku. Mulai saat itu, aku dan kamu menjadi dua sahabat yang tak bisa terpisahkan sampai sekarang. Dan dari saat itulah aku memutuskan untuk jatuh hati padamu Abe, lelaki bermata sendu itu.


                Lamunanku kembali tersadarkan oleh jam ruang tengah yang berdentang dua belas kali. Aku semakin gelisah, kenapa kamu tidak juga datang. Mungkinkah kamu masih bersama Raya.

                Raya, gadis bermata sipit yang sudah selama lebih dari sepuluh tahun belakangan selalu menjadi topik pembicaraanmu.
                “Nadaaaa?”
                “Iya?”
                “Kamu tahu hari ini aku ingin membongkar rahasiaku padamu.”
                Aku bangkit malas-malasan dari tempat tidur. Hari ini kita  belajar bersama untuk menyelesaikan paper sejarah yang akan dikumpulkan besok pagi.
                “Kamu tahu Raya? Kurasa aku mencintainya. Bukan bukan kurasa lagi. Aku memang mencintainya”
                Aku terpaku sejenak. Kamu mungkin tidak sadar perubahan wajahku. Namun aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan sesuatu yang ingin segera tumpah dari sudut mataku.

                Sejak saat itu setiap hari kamu selalu bicara tentang Raya, pagi, siang, sore, malam, setiap waktu Cuma dia yang selalu keluar dari omonganmu.
                Selama sepuluh tahun ini, entah beberapa banyak wanita yang menangis karena harapan-harapan kosong yang kau beri pada mereka termasuk aku. Kamu sempat beberapa kali punya pacar, namun aku tahu karena setiap kali kamu punya pacar kamu masih mengingat Raya. Begitupun aku yang akhirnya memutuskan untuk mulai membuka hati, namun masih kamu yang dengan indahnya mengisi hati dan otakku. Dak terhitung juga beberapa kali aku mencoba menepis banyangmu dengan orang lain namun semuanya masih sama.
                Aku masih sangat ingat, bagaimana semua teman-teman kita menjauhi kita berdua hanya karna tidak ada satu orangpun yang bisa berlama-lama kita pacari yang lebih dari tiga bulan. Aku tahu semua orang sangat membenci kita. Mereka sama sekali tidak tahu alasan kita. Raya alasanmu, dan kamu sendiri tidak tahu kamulah alasanku. Setiap kali salah satu diantara kita putus, kita selalu merayakan. Kita menganggap itu semua sebagai pengalihan perasaan kita yang sebenarnya. Hingga akhirnya kaupun mempertanyakanku, kenapa aku juga sepertimu.

                “Nada, sudahkah kau menghitung beberapa banyak lelaki yang menangisimu dari pertama kali kau memutuskan untuk punya pacar?”
                Aku mencoba mengingat-ingat sejenak. Beberapa nama terlintas dibenakku.
                “Entahlah aku tidak ingin mengingatnya. Bagaimana denganmu, beberapa ribu wanita lagi yang ingin kau buat menangis hingga akhirnya kau berhenti?”
                “Entahlah, mungkin sampai Raya benar-benar melihatku.”
                Kita sama-sama terdiam.
                “Nada, bolehkah aku bertanya sesuatu?”
                Aku gugup mendengar pertanyaanmu.
                “Iya Be, ada apa?”
                “Selama kita berteman, belum pernah sekalipun aku melihatmu menangisi seorang pria. Setiap kali kamu putus kamu tertawa. Kita sama-sama membuat orang lain diluar sana menangis. Kalau alasanku adalah Raya, lalu bagaimana denganmu?”
                Aku tercekat mendengar pertanyaanmu waktu itu. Bagaimana mungkin aku mengakuinya kalau orang yang setiap hari ada di hatiku yang hampir setiap malam aku tangisi adalah kamu.
                Aku gugup dan tak bisa menjawab.
                “Nada, kenapa kamu tidak menjawab?”
                Aku menatap matamu semakin dalam. Haruskah aku jujur?
                “Be, menurutmu kalau salah satu diantara kita mempunyai perasaan lebih apakah itu salah?”
                Gantian kamu yang tercekat mendengar pengakuanku. Aku yakin sesaat setelah aku berkata begitu kamu langsung memahami maksudku.
                “Nada? Mungkinkah?”
                Kamu tidak melanjutkan perkataanmu.
                “Lima tahun Be, dari pertemuan kita saat kelas dua SMA dulu. Sampai sekarang kita berdua sudah sama-sama kuliah semuanya bagiku tidak ada yang berubah Be. Aku menyayangimu, mencintaimu, mengagumi, lebih dari sebagai seorang sahabat.”
                Kamu hanya memelukku. Dari sikapmu aku tahu tidak ada yang bisa menggantikan Raya dihatimu. Karena seperti yang kamu katakan, aku dan Raya sama-sama memiliki arti yang penting bagimu. Namun aku tetaplah aku dan Raya tetaplah Raya. Kami berbeda.

                Malam semakin larut, belum ada tanda-tanda kedatanganmu. Aku semakin gelisah menatap pintu. Selama lima tahun setelah kamu tahu tentang perasaanku tidak sedikitpun berubah dari sikapmu, tidak sekalipun kamu meninggalkanku. Akupun pernah mempertanyakannya.

                “Be, kenapa kamu masih mau bersahabat denganku. Sedangkan kamu sendiri tahu. Aku bersahabat denganmu bukanlah rasa murni bersahabat?”
                “Kenapa kamu bicara begitu Nada?”
                “Bukankah sebenarnya akan lebih mudah jika kamu pergi menjauh dan meninggalkanku. Sehingga aku bisa segera bangun bahwa aku bukanlah orang yang kamu inginkan untuk menghabiskan sisa hidupmu Be?”
                “Apakah itu maumu Nada? Kamu ingin aku benar-benar pergi?”
                Aku hanya terdiam saat itu.
                “Nada, setidaknya dengan menemanimu setiap hari bisa menebus rasa bersalahku yang telah membuatmu menangis hampir tiap malam”
                Aku memelukmu erat.

                Entah beberapa banyak waktu yang telah kita lalui bersama. Aku sudah tidak dapat menghitung dengan pasti pertemuan-pertemuan kita. Yang aku tahu setiap hari aku melihatmu. Hingga tiga bulan yang lalu entah apa yang merasuki saat itu disaat aku melihatmu terdiam lama disudut kamarku. Selama hampir sepuluh tahun mengenalmu baru kali itu aku melihatmu benar-benar aneh.

                Aku melihatmu menitikkan air mata. Untuk pertama kalinya aku menyaksikan Abeku yang tangguh menangis, dan Raya. Dia yang harus bertanggung jawab.
                Aku berlari meninggalkan kamarku untuk menemui raya di kantornya. Aku memang tidak mengenalnya dengan baik. Hanya beberapa kali kamu mengajakku untuk menemui Raya. Itupun tidak berlangsung lama entah karena apa.
                Aku mengeluarkan ponselku dan mengetik nomor Raya. Dalam hati aku berdoa semoga Raya belum pulang.
                Setelah bicara sebentar ditelepon akhirnya aku melihat wajah Raya keluar dari kantornya. Aku mengajak Raya kesebuah kafe yang tidak jauh dari kantornya. Lihatlah apa yang aku lakukan untukmu.
                “Ada apa Nada?” Raya menanyaiku sesaat setelah pelayan kafe mencatat pesanan kami.
                “Raya, apa yang membuatmu tidak mau menerima Abe?” Tanpa basa basi aku langsung menuju topik pembicaraan.
                “Nada, disaat tadi kamu meneleponku aku sudah tahu siapa yang akan menjadi topik pembicaraan kita hari ini.” Raya memberiku sebuah senyum yang sulit kuartikan.
                “Aku tahu Abe mencintaiku dari dulu. Ya, selama sepuluh tahun ini. Aku tahu sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu dia mengharapkanku. Tapi nada, aku justru takut?”
                “Apa yang membuatmu takut?”
                “Selama sepuluh tahun ini pasti Abe menganggapku seseorang yang lebih dari siapapun sehingga membuatnya bertahan begitu lama”
                Jeda.
                “Aku takut Nada, kalau aku memutuskan untuk menerima Abe. Aku takut ternyata diriku bukanlah seperti yang dia bayangkan selama ini. Banyak kekurangan-kekuranganku yang mungkin dia tidak bisa terima.”
                “Abe mencintamu Raya. Aku begitu mengenal Abe”
                Itulah akhir percakapan aku dan Raya. Aku memutuskan untuk pergi bahkan sebelum pesananku datang. Aku sesak berlama-lama di depan Raya. Satu-satunya perempuan yang mampu mengalihkan perhatiamu.

                Ada sedikit rasa sesal dan menyesal menyelimutiku setelah aku memutuskan untuk menemui Raya. Aku takut, sangat takut, begitu takut untuk membayangkan hal yang paling aku takutkan terjadi. Aku takut kalau pada akhirnya Raya memutuskan untuk menerimamu. Bukankah itu hal yang bagus. Tentu saja kamu akan sangat-sangat bahagia. Bagaimana tidak, seseorang yang selama sepuluh tahun belakangan selalu hadir dalam mimpumu memutuskan untuk akhirnya menerimamu? Lalu bagaimana denganku. Hingga akhirnya tadi malam semuanya terjawab.
                Kamu setengah berlari menghampiruku yang tertidur lelah di kamar.
                Kamu membangunkanku.

                “Nada, Raya baru saja meneleponku. Katanya ada yang perlu dia bicarakan denganku”
                Aku dapat melihat ada haru dimatamu, sendu yang sedari dulu bersemayam seketika menghilang. Aku benci mata itu. Aku mempunyai firasat baik tentang ini. Entah itu baik untukku atau untukmu. Hingga akhirnya aku meraih ponselku dan menemukan jawaban dari semuanya.
                Nada terimakasih atas kedatanganmu waktu itu. Aku sudah memutuskan. Ada baiknya aku membuka hati pada Abe.
Raya.
Tiga potong kalimat yang meluluh lantakkan hatiku.
Aku menatapmu lama.
“Abe, maukah besok kamu datang lagi kesini. Tepat pukul sebelas belas malam. Mungkin saja besok adalah hari perpisahan kita”
“Kamu bicara apa Nada?”
“Aku menunggumu besok disini”
                “Baiklah”
                Entah karena terlalu senang atau apa kamupun tidak bertanya lagi dan memutuskan untuk mengiyakan permintaanku.

                Lamunanku kembali dikejutkan, namun bukan lagi oleh jam dinding yang berdentang dua belas kali. Namun bel dari pintu rumahku. Aku tahu kamu datang. Aku berjalan menuju pintu dengan dua buah jarum suntik yang bersembunyi dibalik punggungku.
                Aku mebukakan pintu. Seperti biasa aku memelukmu. Dan dengan cepat salah satu jarum suntik menancap kuat di lehermu.
                “Na..da”
                Kamu tercekat. Aku hanya diam dan berusaha memapahmu yang mulai lunglai.
                Aku terus memapahmu menuju ruang tamu, mendudukkanmu di kursi tanpa perlawanan.
                “Be, maafkan aku. Cairan dalam jarum itu tidak akan membuatmu langsung mati. Kamu hanya lemas dan perlahan kamu akan kehilangan kesadaran. Namun waktunya cukup untuk mendengarkanku bercerita.”
                “Na..da” Aku meletakkan telunjukku dibibirmu.
                “Diamlah dengarkan aku. Tenanglah Be, kamu tidak akan pergi sendiri. aku masih punya satu lagi” Aku memperlihatkan padamu satu jarum yang masih berisi cairan.
                “Na..da.. bu..ang.. ja..rum.. itu.. ka..mu..ha..rus..te.. tap.. hi.. dup”
                “Kenapa Be, bukankah pembunuh seharusnya mati juga”
                “Na.. da.. to.. long.. de..ngarkan.. a.. ku.. du..lu.. Ra.. ya.. dia ti..dak.. men..cin..ta..i..ku..” terbata-bata kamu menjelaskan.
                Kamu menarik nafas. Perlahan kata-katamu sedikit kembali normal.
                “Rayaa.. me..mang.. me..mutus..kan untuk.. men..co..ba.. mem..bu..ka..hatinya.. pa.. da..ku.”
                Jeda.
            “Na..mun.. a..ku sa..dar. aku ti..dak i..ngin.. membe..bani.. Ra..ya un..tuk be..la..jar..men..cin..tai..ku Nada. Se..te..lah… mendengar semuanya.. da..ri.. ra..ya.. tentang per..temuan.. ka..li..an. aku sadar Nada.. ka..mu.. sudah.. ter..la..lu.. ba..nyak.. berkorban.. untukku..sehingga.. me..nga..bai..kan.. perasaanmu.. sendiri”
                Tanpa bisa kucegah airmataku bertumpah.
                “Na…da.. kamu tahu.. ke..na..pa aku ter..lam..bat? butuh.. sepuluh..ta..hun ba..giku.. untuk me..nyadari.. kalau raya bukanlah..un..tukku.. namun.. na.. da, ha..nya.. butuh du..jam ba..gi.ku.. un..tuk meyakinkan.. ka..lauu.. ka..mu..lah.. yang sebenarnya aku cintai.”
                Aku memelukmu erat.
                “Abe maafkan aku.”
                “Na..da. kumohon.. tetaplah.. hi..dup.. de..mi.. aku”
                Aku sudah tidak kuat lagi. Jarum suntik yang masih berisi menancap dileherku. Aku merebahkan diri dipelukan Abe.
                “Aku.. men..cin..tai..mu.. Nada”

                Dan semuanya gelap.


Source: Google

No comments:

Post a Comment