Sunday, July 22, 2018

Unconditional Love

Cinta tanpa syarat itu memang nyata adanya. Disini saya akan bercerita tentang perjuangan sepasang Suami istri yang menginginkan kehidupan anaknya lebih baik daripada kehidupan mereka. Sang Suami hanya lulusan SMP, walaupun melanjutkan ke jenjang STM (Sekolah Teknik Menengah) namun Beliau tidak mendapatkan ijazah disana karena berhenti di tengah jalan. Beliau yang terlahir dari keluarga yang lumayan berada memutuskan untuk melanjutkan bengkel yang sudah berdiri semenjak beliau SMP. Tidak banyak protes dari Ayah beliau karena beliau merupakan anak laki-laki satu-satunya dari 10 bersaudara. Sang istri anak ke-4 dari 6 bersaudara yang terlahir dari keluarga pas-pasan. Beliau di sekolahkan tantenya sampai SMA namun tidak sampai lulus. Sama seperti sang Bapak, beliau juga hanya mempunyai Ijazah SMP. Singkat cerita, mereka memutuskan menikah. Pernikahan yang awalnya ditentang keluarga sang suami karena perbedaan latar belakang keluarga. Sang suami memutuskan untuk mengajak istrinya merantau ke Jakarta, melepas semua harta orangtuanya dan berjuang dari awal lagi dengan sang istri. Jadi supir angkot, supir taksi dan segala macam akhirnya dilakoni sang suami agar bisa menafkahi istri. 

Beberapa tahun kemudian ketika sang istri hamil mereka memutuskan untuk kembali ke kampung. Anak pertama merekapun lahir. Perlahan restu pun di dapat dari keluarga sang suami karena kehadiran cucu pertama mereka dari anak laki-laki satu-satunya. Merekapun memulai kehidupan di kampung, perlahan-lahan usaha mereka membuahkan hasil. Berkat sang suami yang pekerja keras dan sang istri yang juga pekerja keras dan pintar mengatur keuangan keluarga kehidupan mereka membaik.  anak ke-2 dan ke-3 lahir. Semuanya perempuan. Merekapun masih terus berusaha, beberapa anak yatim dan saudara yang tidak mampu di ajak untuk tinggal kerumah sehingga rumah mereka tidak pernah sepi. Hal yang patut kita contoh dari mereka, memberi tanpa harap menerima. Sang istri selalu bilang, “Rejeki dating dari banyak pintu, mungkin saat ini rejeki mereka ada dari saya.” 

Kebahagiaanpun bertambah dengan kehadiran bayi laki-laki di kehidupan mereka. Penantian yang akhirnya membuahkan hasil, karena keinginan sang bapak yang menginginkan bayi laki-laki tangguh sepertinya. Tapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Seketika sang istri mengalami sakit. Sakit yang membuat sang istri hampir putus asa. Disinilah kesetiaan mereka di uji. Apa yang sudah di bangun belasan tahun harus direlakan satu persatu. Sang suami memutuskan untuk menutup beberapa usahanya, dan hanya fokus untuk satu usaha agar tetap menghasilkan uang untuk biaya pengobatan istri dan sekolah anak-anaknya. Sisa waktunya dihabisakan untuk menghibur sang istri, setiap sore sang suami mengajak istri dan anak-anaknya untuk keluar, bermain ke tempat-tempat wisata agar sang istri tidak terlalu memikirkan penyakitnya. 2 tahun tersulitpun berlalu, sang isitri perlahan sembuh. Kabar bahagia lagi, sang istri hamil dan melahirkan anak ke-5 dan laki-laki. Blessing in disguise idiom yang cocok menggambarkan mereka saat itu. 

Bulan pun berlalu, di tahun yang sama anak pertama mereka harus berangkat kuliah saat itu, sedangkan kondisi keuangan mereka belum pulih, namun tekad sang anak dan keras kepala sang suami yang menginginkan semua anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, anaknya pun berangkat.  3 setengah tahun perjuangan mati-matian suami istri tersebut membuahkan hasil, anak pertama diwisuda di bulan Juli 2013, tepat di bulan ulang tahun pernikahan mereka ke 23. Dan bulan ini, tepat di ulang tahun mereka ke 28 anak kedua juga sudah berhasil di wisuda. Cinta tak bersyarat, dari ketulusan seorang suami kepada istri, begitupun sebaliknya. Serta cinta mereka yang tidak bersyarat ke semua anak-anaknya termasuk saya. Iya, suami istri itu adalah bapak dan ibuk saya. Laki-laki yang mempunyai kepala dan tekad sekuat baja, dan perempuan pekerja keras yang mempunyai sabar tiada batas seperti samudera. Kasih sayang dan cinta mereka yang tak bersyarat, yang memperjuangkan anak-anaknya agar mempunyai kehidupan lebih baik dari mereka.

Ma, Pa, selamat ulang tahun pernikahan ke 28 tahun lewat 5 hari. Cinta mama dan papa kepada kami anak-anak kalian tiada bisa terbalaskan. Semoga kami bisa dan selalu bisa membuat mama dan papa bangga. 





Love from the oldest :)

No comments:

Post a Comment